Resep Otak-otak



Otak otak Recipe | English Version

TENGGIRI (MACKEREL) DI DAUN PISANG

Oleh Erry Safri

  • 1/2 kg ikan cincang (ikan giling)
  • 2 putih telur
  • 150 cc santan
  • 4 sdm tapioka (kanji) Tani Brand
  • Daun pisang

🐟

BAHAN KONSUMEN

  • 1 sdm garam
  • 1 sdm merica
  • 1 sdm gula

MEMASAK

  • Campurkan ikan giling, telur, santan, dan bumbu ke dalam pasta halus.
  • Tambahkan tapioka dan kebocoran.
  • Bungkus 1 sdm adonan dalam daun pisang.
  • Panaskan oven hingga 250º F.
  • Atur otak-otak menjadi panci dan masak.

WAKTU
Persiapan memakan waktu sekitar 15 menit dan memasak membutuhkan waktu 20-25 menit.

🐟

SAUS KACANG

  • 100g kacang cincang (berkulit) atau selai kacang
  • 1 sdm saus dingin
  • 1 sdm saus tomat
  • 250 cc air hangat

🐟

PANDUAN MEMBELI

  • Ikan Tenggiri di Pasar Bawah atau Pasar Rumbai Pasar Ikan.
  • Santan (segar) di Pasar Rumbai
  • Tapioca (Tani Brand) di Pasar Pusat (Toko Semarang)
  • Daun pisang di Pasar Bawah atau pasar Rumbai.

🐟

SANTAN

Santan atau santan, sangat diperlukan untuk masakan Indonesia. Digunakan sebagai penyedap dan juga sebagai penebalan saus.

Ada dua cara untuk membuat santan:
  1. Santan segar, dibuat segar dari kelapa, ini selalu santan terbaik dalam warna, rasa dan tekstur (Pasar Rumbai)
  2. Santan Coconut cream, santan jenis ini diproduksi dari paket kelapa komersial.

Santan segar tidak disimpan dengan baik dan harus digunakan dalam 24-30 jam, harus disimpan dalam lemari es, mungkin menebal seperti krim, tetapi ketika dipanaskan akan kembali seperti aslinya (mencampur krim dan air hangat)

Tumpeng


Tumpeng | English Version

⛰️ Defenisi


Tumpeng adalah cara menyajikan nasi dan lauknya dalam bentuk kerucut. Tumpeng umumnya digunakan dalam bentuk nasi kuning, meskipun sering juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk yang dibuat dengan menggunakan wadah anyaman bambu berbentuk kerucut.

Cara menyajikan nasi ini khas orang Jawa atau Betawi keturunan Jawa. Secara tradisional ditampilkan dalam upacara slamatan dan biasanya dibuat pada saat perayaan atau perayaan acara penting. Meskipun demikian, orang Indonesia sudah terbiasa dengan kegiatan ini secara umum.

Tumpeng biasanya disajikan di tampah atau winnow (wadah bulat tradisional dari anyaman bambu) dan daun pisang.

Tumpeng adalah hidangan nasi berbentuk kerucut dengan lauk sayuran dan daging. Secara tradisional ditampilkan dalam upacara slamatan, nasi dibuat dengan menggunakan wadah anyaman bambu berbentuk kerucut. Nasi itu sendiri mungkin nasi putih biasa, nasi uduk (dimasak dengan santan), atau nasi kuning (nasi uduk diwarnai dengan kunyit).

Kerucut beras didirikan di tampah (wadah anyaman bambu bundar), ditutupi dengan daun pisang, dan dikelilingi oleh berbagai macam masakan Indonesia.

Pada tahun 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia mempromosikan tumpeng sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner Indonesia dan memberikannya status hidangan nasional resmi Indonesia dan pada tahun 2014, menggambarkannya sebagai "hidangan yang mengikat keragaman berbagai Indonesia tradisi kuliner.

⛰️ Sejarah dan tradisi

Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk merayakan acara penting, seperti perayaan kelahiran atau ulang tahun dan acara perayaan lainnya. Hari ini, hampir semua orang Indonesia akrab dengan tumpeng.


Filosofi tumpeng erat kaitannya dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi gunung berapi. Tumpeng berasal dari masyarakat Indonesia kuno yang memuliakan gunung sebagai tempat tinggal para hyang, atau roh leluhur (leluhur). Setelah orang-orang Jawa dianut dan dipengaruhi oleh budaya Hindu, beras berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat yang berdiam para dewa.

Orang-orang di Jawa, Bali dan Madura biasanya membuat tumpeng untuk merayakan acara-acara penting. Namun, semua orang Indonesia akrab dengan tumpeng. Filosofi tumpeng berhubungan dengan kondisi geografis Indonesia, terutama Pulau Jawa yang subur dengan banyak gunung dan gunung berapi.

Tumpeng kembali ke tradisi kuno Indonesia yang menghormati gunung sebagai tempat tinggal para hyung, roh leluhur dan dewa. Beras berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru gunung suci. Pesta itu berfungsi sebagai ucapan syukur atas limpahnya panen atau berkat-berkat lainnya.

Tumpeng adalah simbol syukur, dalam upacara syukur (syukuran atau slametan), setelah orang-orang berdoa, bagian atas tumpeng dipotong dan dikirim ke orang yang paling penting. Dia mungkin pemimpin kelompok, orang tertua, atau orang yang dicintai. Kemudian, semua orang dalam upacara menikmati tumpeng bersama. Dengan tumpeng, orang-orang mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan menghargai kebersamaan dan harmoni. Upacara tahunan yang melibatkan tumpeng biasa disebut 'tumpengan'.

Di zaman modern, bagian atas tumpeng diberikan kepada tamu terhormat dalam acara sosial, upacara atau penghargaan. Di banyak kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, sebuah tradisi telah dikembangkan - upacara tumpengan menjelang 17 Agustus - yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Acara ini dimaksudkan untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan bangsa.

⛰️ Awalnya dibuat untuk persembahan ke gunung

Pada mulanya, tumpeng digunakan oleh orang Jawa dan masyarakat sekitarnya (termasuk orang Madura dan Bali), untuk membuat persembahan ke gunung sebagai bentuk penghormatan bahwa ada leluhur yang menghuni pegunungan. Ini terjadi sejak lama, jauh sebelum agama masuk ke nusantara.

Belakangan, agama Hindu masuk ke Indonesia. Perayaan dan pembuatan kerucut memiliki sedikit perubahan, yaitu dari bentuk beras. Nasi tumpeng baru mulai berbentuk kerucut ketika zaman Hindu. Kerucut adalah tiruan dari bentuk gunung Mahameru sebagai tempat tinggal dewa-dewa mereka.

Meskipun tradisi kerucut telah ada jauh sebelum pengenalan Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng dalam perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filsafat Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan dalam masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan pengajian Qur'an sebelumnya.

Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" adalah akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng (jika keluar harus dengan sungguh-sungguh). Rinci, ada satu lagi unit makanan yang disebut "Buceng", terbuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu bernyanyi kenceng (ketika masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan tumpeng-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 pitu Jawa, artinya Pitulungan (bantuan).

Tiga kalimat akronim, berasal dari sebuah doa dalam surah al-Isra 'ayat 80: "Ya Tuhan, tolong masukkan aku dalam kebenaran dan keluarkan aku sepenuhnya dan buatlah kekuatanmu untuk aku yang memberi bantuan".

Menurut beberapa komentator, doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad SAW kali akan beremigrasi dari kota Mekah ke kota Madinah. Jadi jika seseorang ingin merayakan presentasi Tumpeng, tujuannya adalah untuk meminta bantuan kepada Sang Pencipta agar kita bisa menjadi baik dan menghindari kejahatan, dan mendapatkan kemuliaan yang memberikan bantuan. Dan itulah yang akan kita dapatkan jika kita ingin berusaha dengan sungguh-sungguh.

Tumpeng adalah bagian penting dalam perayaan pesta tradisional. Perayaan atau perayaan adalah bentuk rasa syukur dan syukur kepada Yang Mahakuasa atas berlimpahnya panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering berfungsi sebagai kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam perayaan, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi yang tidak tertulis menunjukkan tumpeng yang dipotong dan diberikan kepada yang paling penting, yang paling terhormat, yang paling dihormati, atau yang paling tua di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang itu. Kemudian semua yang hadir diajak menikmati tumpeng bersama. Dengan komunitas tumpeng menunjukkan rasa syukur dan syukur kepada Tuhan serta merayakan kebersamaan dan harmoni.

Acara yang melibatkan nasi kerucut ini disebut sebagai 'tumpengan' sebagai orang awam. Di Yogyakarta misalnya, tradisi 'tumpengan' berkembang pada malam sebelum 17 Agustus, Proklamasi Hari Kemerdekaan Indonesia, untuk berdoa bagi keselamatan negara.


⛰️ Lauk pauk

Tidak ada piring standar. Namun, beberapa lauk pauk yang biasa adalah kue, daging parut, telur goreng, telur goreng, potongan dipotong, dan daun seledri. Variasinya meliputi tempe kering, serundeng, omelet kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya.

Dari segi makna tradisional tumpeng, direkomendasikan bahwa lauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, bandeng atau rempeyek teri) dan sayuran (kangkung, bayam atau kacang panjang). Masing-masing lauk ini memiliki makna tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. Kompetisi make up tumpeng cukup umum, terutama di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, untuk memeriahkan Hari Proklamasi Kemerdekaan.

⛰️ Arti Lauk pauk di sekitarnya

Nasi berbentuk kerucut ini dikelilingi oleh berbagai macam masakan Indonesia, seperti sayur urap, ayam goreng, ayam bakar, empal gepuk (daging sapi goreng manis dan pedas), abon sapi, semur (daging sapi) rebus dalam kecap manis), teri kacang (ikan teri dengan kacang tanah), udang goreng, telur pindang (telur marmer rebus), omelet iris, tempe orek (tempe goreng manis dan kering), kentang perkedel (kentang tumbuk lumat), perkedel jagung, sambal goreng ati (hati dalam saus sambal), dan banyak hal lainnya.

Biasanya ada setidaknya 7 jenis lauk pauk pada nasi tumpeng. Karena di Jawa angka 7 disebut pitu, yang juga bisa ditafsirkan sebagai pitulungan atau pembolongan. Selain itu, jenis lauk yang dipilih juga memiliki makna. Misalnya telur yang menggambarkan kebersamaan.

Mungkin teman juga sering menemukan berbagai jenis ikan dalam kerucut kerucut kerucut? Nah, ikan ini menggambarkan keuletan, dan perjuangan hidup meski sedang dalam masa-masa sulit.

Ada juga ayam jago yang biasanya dimasak dengan bumbu kuning. Ini melambangkan bahwa manusia harus menghindari sifat buruk dari ayam jantan (laki-laki) misalnya sombong atau ingin menang sendiri.

Urap sayuran

Berbeda dengan lauk pauk yang memiliki banyak arti, sayuran dalam nasi kerucut kerucut padi umumnya memiliki arti yang baik. Sayuran yang terdiri dari kale, toge, dan kacang panjang memiliki arti untuk melindungi dan penilaian yang baik dalam memilih semuanya.

Secara tradisional harus ada keseimbangan antara sayuran, telur, daging, dan makanan laut. Komposisi tumpeng tradisional Jawa lebih kompleks karena unsur-unsurnya harus menyeimbangkan satu sama lain sesuai dengan kepercayaan Jawa.

Tumpeng tradisional Jawa biasanya melibatkan sayur urap, tempe, ayam goreng, teri kacang, udang goreng, telur pindang, empal gepuk dan sambal.

Setelah pengadopsian tumpeng sebagai hidangan nasional, tumpeng diharapkan menjadi hidangan yang mengikat tradisi memasak Indonesia. Lauknya mungkin masakan Indonesia yang populer, seperti gado-gado, sate dan rendang. Hari ini piring yang menyertai tumpeng dapat menjadi kebijaksanaan tuan rumah.

⛰️ Makna filosofis
Ada makna filosofis pada setiap bagian tumpeng tradisional. Menurut cerita rakyat di Jawa dan Bali, tumpeng berbentuk kerucut adalah simbol mistik kehidupan dan ekosistem. Ini juga melambangkan kemuliaan Tuhan sebagai Pencipta alam, dan lauk dan sayuran mewakili kehidupan dan harmoni alam.

Piring tumpeng otentik dan lengkap harus mengandung setidaknya satu daging untuk mewakili hewan darat, ikan untuk mewakili makhluk laut, telur untuk mewakili binatang bersayap, dan sayuran yang mewakili stok makanan yang disediakan oleh kerajaan tumbuhan. Biasanya tumpeng disajikan dengan bayam karena bayam adalah simbol tradisional kemakmuran di masyarakat pertanian Jawa.

Berikut adalah makna filosofis dibalik beberapa bahan tumpeng:
  • Telur: Telur disajikan dengan cangkang masih aktif. Mengupas telur sebelum memakannya melambangkan segala sesuatu yang harus direncanakan dan dilakukan seseorang sebelum menjadi orang yang baik.
  • Sayuran: Bungkus sayuran mewakili hubungan yang baik dengan teman dan tetangga. Bayam mewakili kehidupan yang aman dan damai; bayam air melambangkan seseorang yang dapat hidup melalui kesukaran; kacang panjang mewakili umur panjang; dan kecambah kacang hijau mewakili nenek moyang untuk memiliki warisan.
  • Ikan lele: Lele mewakili pentingnya mempersiapkan masalah di masa depan. Ini juga mewakili menjadi rendah hati, karena ikan lele hidup di dasar kolam.
  • Bandeng: Banyak tulang bandeng mewakili nasib baik dan kemakmuran di masa depan.
  • Teri: Karena mereka hidup bersama, teri mewakili mewakili hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangga.

Ada beberapa varian tumpeng, dibedakan berdasarkan upacara.
  • Tumpeng Robyong - Jenis tumpeng ini biasanya disajikan dalam upacara siraman tradisional (bridal shower). Tumpeng ditempatkan pada wadah nasi bakul bambu; telur, terasi, bawang merah dan cabai merah ditempatkan di atasnya.
  • Tumpeng Nujuh Bulan - tumpeng semacam ini disajikan pada bulan ketujuh kehamilan (upacara prenatal). Tumpeng terbuat dari nasi putih biasa. Sebuah tumpeng utama dikelilingi oleh enam tumpeng yang lebih kecil; semua tumpengs didirikan di tampah yang dilapisi daun pisang.
  • Tumpeng Pungkur - Digunakan dalam upacara kematian seorang perawan atau pria atau wanita yang belum menikah. Ini terbuat dari nasi putih yang dikelilingi hanya dengan hidangan sayuran. Tumpukan kemudian harus dipotong vertikal menjadi dua bagian secara merata dan ditempatkan satu terhadap yang lain.
  • Tumpeng Putih - tumpeng Putih, menggunakan nasi putih karena putih melambangkan kesucian dalam budaya Jawa. Jenis tumpeng ini digunakan dalam upacara sakral.
  • Tumpeng Nasi Kuning - Kuning tumpeng: Warna kuning melambangkan emas, kekayaan, kelimpahan, dan moral tinggi. Jenis tumpeng ini digunakan dalam perayaan dan perayaan yang ceria dan bahagia, seperti perayaan kelahiran, pertunangan, pernikahan, Idul Fitri, Natal, dll.
  • Tumpeng Nasi Uduk (juga disebut tumpeng tasyakuran) - Nasi uduk (nasi yang dimasak dalam santan) digunakan dalam upacara Maulud Nabi: merayakan ulang tahun Nabi Muhammad.
  • Tumpeng Seremonial / Modifikasi - tumpeng kontemporer ini relatif lebih terbuka untuk modifikasi dan adaptasi. Itu tergantung pada kebijaksanaan, selera, dan permintaan tuan rumah.
Tradisi kontemporer

Saat ini, sebagian besar orang Indonesia menyajikan tumpeng sebagai hidangan untuk merayakan acara istimewa, seperti pesta ulang tahun, arisan, pertemuan keluarga atau lingkungan, pesta perpisahan, perayaan, resital, dan banyak acara gembira lainnya. Karena nilai perayaan dan perayaannya, sampai sekarang tumpeng kadang-kadang dilihat sebagai mitra kue ulang tahun Indonesia. Kontes Tumpeng terkadang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus atau untuk memperingati hari emansipasi wanita, Kartini pada 21 April. Para tumpeng dalam kontes ini dinilai oleh dekorasi dan selera.

Menurut Jati dalam kearifan lokal di balik Tumpeng sebagai ikon masakan tradisional Indonesia, pada tahun 2004, Departemen Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan piramida makanan tumpeng berbasis untuk mendorong makan sehat karena tumpeng termasuk sampel makanan dari setiap kelompok makanan. Sisi-sisi daging atau kedelai menyediakan zat besi, seng, dan protein; lauk sayuran menyediakan vitamin dan mineral.

Pada tahun 2009, Garuda Indonesia mulai menawarkan Mini Nasi Tumpeng Nusantara sebagai bagian dari konsep baru untuk menyoroti keramahan Indonesia.

Tumpeng ditawarkan di restoran Indonesia di luar negeri, seperti di negara tetangga Singapura dan Belanda.

Pembangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi milik Suharto di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, mengambil bentuk tumpeng.

Otak otak


Defenisi
Otak-otak (otah-otah, otah atau otak) adalah kue ikan bakar yang terbuat dari daging ikan tanah dicampur dengan tepung tapioka dan rempah-rempah. Makanan ini secara luas dikenal di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Malaysia dan Singapura, di mana secara tradisional disajikan segar, dibungkus di dalam daun pisang, serta di banyak toko Asia internasional - dijual sebagai makanan beku. Ini dapat dimakan hanya sebagai camilan atau dengan nasi putih sebagai bagian dari makanan.

Otak berasal dari kata"otak" dalam bahasa Indonesia dan Melayu sebagai bagian dari anggota tubuh, dan nama hidangan tersebut berasal dari gagasan bahwa hidangan itu agak menyerupai otak, berwarna keputih-putihan, lembut dan hampir licin. Namun demikian, hanya otak-otak dari Indonesia yang memiliki warna keputihan, sedangkan otak-otak dari Malaysia dan Singapura memiliki warna oranye kemerahan atau coklat yang diperoleh dari cabai, kunyit dan bubuk kari.

Distribusi
Otak-otak ditemukan di daerah-daerah tertentu di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Di Indonesia, tiga kota terkenal karena otak-otak mereka; Palembang, Jakarta dan Makassar, namun sebagian besar kota nelayan pesisir di Indonesia sudah akrab dengan hidangan ini. Kota Muar di Malaysia selatan di Johor adalah tujuan populer untuk itu - orang-orang dari negara-negara sekitarnya dan bahkan orang Singapura sering mengunjungi untuk membeli otak-otak yang terkenal dalam jumlah besar. Umumnya dikenal di Singapura sebagai otah.

Komposisi
Otak-otak dibuat dengan mencampur pasta ikan dengan campuran rempah-rempah. Jenis ikan yang digunakan untuk membuat otak-otak mungkin bervariasi, mackerel umumnya digunakan di Malaysia, sedangkan ikan tenggiri (wahoo) adalah bahan yang populer di Indonesia. Jenis ikan lain seperti bandeng (bandeng) dan ikan belida yang lebih mahal (ikan featherback) dapat digunakan. Ikan dan pati tanah dibumbui dengan rempah-rempah yang biasanya termasuk bawang putih, bawang merah, santan, merica, garam dan gula.

Baca Juga: Resep Otak-otak

Di Indonesia, campuran biasanya mengandung pasta ikan, bawang merah, bawang putih, daun bawang, telur, santan, dan pati sagu atau dapat digantikan dengan tepung tapioka. Di Malaysia, biasanya campuran antara pasta ikan, cabai, bawang putih, bawang merah, kunyit, serai, dan santan. Campuran tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang yang telah dilunakkan dengan uap, kemudian dipanggang atau dikukus.

Di Jakarta, Indonesia, seseorang menemukan otak-otak dijual di warung-warung kecil dekat halte bus, terutama pada jam sibuk sore hari. Beberapa otak-otak terbaik dapat ditemukan di Makassar; bahan utamanya adalah ikan king mackerel segar, juga disebut king fish atau spanish mackerel.

Di Malaysia, otak-otak terbuat dari daging ikan tanah dicampur dengan beberapa bumbu seperti cabai, kunyit, dan bubuk kari untuk menambah rasa. Tulang-tulang ikan yang pertama dihapus karena hanya daging ikan yang digunakan, kemudian dicampur menggunakan mesin untuk membuatnya lebih lembut. Cabai, bumbu, garam, kecap, dan sedikit tepung ditambahkan ke daging ikan dan dicampur dengan baik. Otak-otak biasanya dibungkus di dalam daun (Arenga pinnata) dan dipotong menggunakan stapler atau tusuk gigi di kedua ujungnya sebelum dipanggang atau dipanggang di atas kompor.

Rasa ini menggabungkan aroma daun Nipah (attap) yang terbakar, kelembutan daging ikan dan bumbu cabai. Tingkat kepedasannya sesuai dengan jumlah cabe yang digunakan. Karena otak-otak adalah kue ikan tanpa tulang, itu juga cocok untuk anak-anak. Sementara otak-otak ikan adalah yang paling umum, otak-otak juga dibuat dari udang, seringkali menghasilkan variasi yang lebih bertekstur. Di Muar, ada juga otak-otak yang terbuat dari sotong, kepala ikan dan bahkan ayam.

Selain memanggang, beberapa otak-otak mungkin dikukus sebagai gantinya. Otak-otak yang dikukus berbentuk segi empat tanpa pembungkus daun attap. Otak-otak disajikan paling segar, sebagai lauk dengan nasi atau sebagai makanan ringan selama waktu minum teh.


Varietas regional
Ada resep berbeda dari otak-otak yang berasal dari berbagai daerah.

Di Indonesia, otak-otak umumnya terkait dengan Palembang, Sumatera Selatan. Namun, daerah lain di Indonesia juga populer untuk resep otak-otak mereka, seperti Jakarta dan Makassar. Di Palembang, orang-orang makan otak-otak dengan cuko (saus cuka pedas pedas dan manis dari Palembang). Sementara di Jakarta, mereka menikmatinya dengan saus kacang pedas.

Ada berbagai jenis otak-otak yang tersedia di berbagai distrik. Otak-otak nyonya (The brain of the mistress), berasal dari Peranakan, ditemukan di Malaysia utara, Penang, dikukus di daun pandan. Di Malaysia otak-otak umumnya ditemukan di sebuah kota kecil bernama Muar, terletak di sebelah selatan West Peninsular Malaysia, Johor. Otak-otak dari Muar sangat terkenal di Malaysia. Nyonya otak-otak (Melayu: otak-otak Nyonya), dengan asal-usul Peranakan, dari negara bagian Malaysia utara Penang, dikukus sebagai kue di daun pisang.

Namun, otak-otak di pantai timur dan selatan Malaysia dan di Singapura dikemas sebagai potongan kecil di daun kelapa atau pisang dan dipanggang (versi Singapura biasanya dipanggang di daun pandan). Ini menghasilkan otak yang lebih berotak bata, kering dengan bau asap ikan. Sel-sel otak yang berbeda ada, termasuk versi putih, tanpa bumbu. Orang-orang di Palembang makan makanan seperti itu dengan cuko.

Otak-otak dari Indonesia, selatan Malaysia, dan Singapura dibungkus dengan irisan tipis menggunakan daun pisang atau kelapa dan dipanggang di atas api arang. Akibatnya, akhirnya menjadi lebih kering dan dengan aroma ikan asap yang lebih berbeda. Warna otak-otak dari Indonesia adalah keputihan, sedangkan otak-otak dari Malaysia dan Singapura berwarna oranye kemerahan. Varietas lain dari otak-otak memang ada.

Meskipun otak-otak secara tradisional dibuat dengan daging ikan, versi modern otak-otak dapat menggunakan daging kepiting atau udang, cumi atau bahkan kepala ikan. Selain itu, versi modern juga menggunakan tambalan ikan yang dihancurkan dan dicampur dengan aditif seperti tepong kanji yang membuat isi gummy.

Hari ini, kita dapat menemukannya di semua wilayah di Indonesia. Provinsi lain juga memiliki resep Otak-Otak yang unik. Misalnya, ada gaya Makassar dan Jakarta. Di Jakarta, orang menggunakan saus kacang pedas

Jenis otak-otak lainnya termasuk makanan yang dikenal sebagai pais ikan dan satar yang dihasilkan dari pasta ikan yang dimasak dalam paket daun pisang.

Hidangan serupa
Suatu jenis otak-otak dari Terengganu disebut Sata. Hidangan Indonesia serupa menggunakan daun pisang disebut pepes. Jenis otak-otak lainnya termasuk hidangan yang disebut pais ikan, botok yang terbuat dari pasta ikan yang dimasak dengan daun pisang. Otak-otak sangat mirip dengan paprikas Szczecin (bahasa Polandia: Paprykarz szczeciński). Filipina memiliki kelezatan yang sama yang disebut tupig. Sebuah adonan tebal yang terbuat dari tepung beras ketan (yang dikenal secara lokal sebagai galapong), potongan kelapa, santan, gula dan kacang dibungkus dengan daun pisang, dan kemudian dipanggang di atas bara.

Studi Akademis

Folklore Academic Study | English Version

Studi tentang folklor biasanya disebut "folkloristik", meskipun istilah lain yang kadang-kadang digunakan termasuk "studi folklor", yang kadang menyebabkan kebingungan. Studi tentang folklor juga kadang-kadang disebut "folklor".

Folkloris mengumpulkan data dengan mempelajari tangan pertama folklor, melalui apa yang disebut kerja lapangan. Dengan cara memberi pertanyaan dan mewawancarai orang-orang tentang folklor mereka sendiri.

Dalam beberapa kasus folkloris mengingat apa yang nara sumber katakan, memungkinkan mereka untuk kemudian mengingatnya baik secara lisan maupun tertulis. Hal ini juga berupa catatan tertulis selama wawancara, atau menggunakan metode rekaman seperti video, fotografi, dan rekaman suara. Tulisan merupakan metode yang paling sering digunakan oleh folkloris. Media rekaman sering digunakan adalah video; misalnya untuk tarian rakyat adalah terbaik dengan menggunakan media ini.

Pendekatan untuk mempelajari folklor bervariasi; beberapa folkloris mengkhususkan diri pada genre folklor tertentu, misalnya menjadi seorang spesialis dalam cerita rakyat, lagu-lagu rakyat, atau seni rakyat. Sebuah pendekatan alternatif berfokus pada studi dari "kelompok rakyat", mempelajari berbagai bentuk cerita rakyat hadir dalam suatu kelompok tertentu. Pendekatan ketiga menggabungkan studi tentang cerita rakyat sebagai sub-bidang disiplin lain, seperti studi literatur, antropologi, sejarah, atau linguistik.

Selanjutnya, folkloristik telah datang untuk bersinggungan dengan disiplin lain, dengan berbagi topik yang menarik. Banyak penelitian antar-disiplin telah dihasilkan. Kursus folkloristik yang banyak tersedia di universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat, dengan pemberian gelar dalam disiplin tertentu.

Burung Gelatik Jawa

The Java Sparrow | English Version

Burung Gelatik Jawa (Lonchura oryzivora), adalah seekor burung kecil yang dikembangbiakan oleh penduduk di Jawa, Bali dan Bawean di Indonesia.

Burung ini endemik dari Indonesia dan di alam ditemukan di hutan, padang rumput, sawah dan lahan budidaya di Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Baca juga: Kisah monyet dan Burung

Perilakunya senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pakan utama burung ini adalah bulir padi atau beras, juga biji-bijian lain, buah, dan serangga. Burung betina menetaskan anak burung antara empat sampai enam butir telur berwarna putih, yang dierami oleh kedua tetuanya.

Spesies ini merupakan salah satu burung yang paling diminati oleh para pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta terbatasnya ruang hidup burung ini menyebabkan populasi gelatik Jawa menyusut tajam dan terancam punah di habitat aslinya dalam waktu singkat. Sekarang telah sulit untuk menemukan gelatik di persawahan atau ladang.

Burung Gelatik Jawa merupakan burung yang dipelihara dalam sangkar oleh banyak orang dan telah diperkenalkan di sejumlah besar negara lain.
文 鳥, Galeri Ohmi


Burung Gelatik Jawa telah menjadi burung sangkar yang populer di Asia selama berabad-abad, pertama di Dinasti Ming China dan kemudian di Jepang dari abad ke-17, sering muncul dalam lukisan dan cetakan Jepang seperti cetakan di atas kayu (woodblock), "Gelatik Jawa" (文 鳥), oleh Shimazaki Ryuu (kuchi-e) pada tahun 1912. Penulis era Meiji, Natsume Sōseki, menulis sebuah tulisan tentang burung gelatik Jawa peliharaannya.

Di Asia, burung Gelatik Jawa paling sering dipealihara sejak lahir oleh peternak dan pemilik nya, dan mereka menjadi sangat jinak dan dekat dengan manusia. Dengan demikian, mereka biasanya dapat dipelihara di dalam sangkar yang relatif kecil, namun dapat terbang di dalam ruangan tanpa berusaha untuk melarikan diri.

Burung gelatik Jawa memiliki kepala berwarna hitam, pipi putih dan paruh merah yang berukuran besar. Burung dewasa mempunyai bulu berwarna abu-abu, perut berwarna coklat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya. Burung jantan dan betina tampak serupa. Burung yang masih muda berwarna coklat.

Di penangkaran, berbagai warna telah dikembangbiakkan, termasuk warna putih, perak/opal, coklat muda/fawn/isabel, pastel, krem dan batu akik (yang saat ini langka di Eropa) bersama dengan burung Gelatik Jawa yang belang/bercorak (disebut sakura buncho di Jepang).

Gelatik warna Coklat muda



Defenisi Folklor

Folklore Defenition | English Version

Folklor berasal dari bahasa Inggris "folklore" yang merupakan tradisional seni, sastra, pengetahuan, dan praktek yang disebarkan terutama melalui komunikasi lisan dan contoh perilaku. Ini termasuk cerita rakyat, mitos, legenda, kepercayaan, praktik, takhayul, dll.

Setiap kelompok yang berbagi identitasnya sendiri, sebagai bagian sentral dari identitas itu, tradisi-rakyat hal-hal yang dipercayai orang tradisional (praktik penanaman, tradisi keluarga, dan elemen lain dari cara memandang kehidupan), tindakan (tari, membuat musik, menjahit pakaian), pengetahuan (bagaimana membangun sebuah bendungan irigasi, bagaimana merawat suatu penyakit, bagaimana mempersiapkan sajian), membuat (arsitektur, seni, kerajinan), dan mengatakan (cerita pengalaman pribadi, teka-teki, lirik lagu).

Contoh-contoh ini menunjukkan, dalam banyak kasus tidak ada aturan yang baku dalam mengategorikannya, baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kerja sebagai folkloris.

Kata "folklor" memberi dimensi yang sangat besar dan sangat signifikan dari budaya. Mengingat seberapa besar dan kompleks subjek ini, maka tidak mengherankan bahwa folkloris mendefinisikan dan menggambarkan folklor dalam banyak cara yang berbeda. Cobalah minta sejarawan tari untuk definisi "tari,"misalnya, atau antropolog untuk mendefinisikan "budaya." Tidak ada satu pun definisi yang cukup atau pasti.

Ini juga disebabkan karena sebagian folkloris (ahli folklor) menekankan bagian tertentu atau karakteristik dari dunia folklor sebagai hasil kerja sendiri, kepentingan mereka sendiri, atau khalayak tertentu yang berusaha mereka capai. Dan bagi para folkloris, seperti anggota kelompok manapun yang berbagi minat yang kuat, tidak setuju dengan satu sama lain adalah bagian dari pekerjaan dan kenikmatan di lapangan, dan merupakan salah satu cara terbaik untuk belajar.

Pulau Roti



A Story from Roti Island | English version

Folklor dari Nusa Tenggara Timur

SUATU waktu, seorang nenek dan cucunya tinggal di Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur. Mereka memiliki kebun sayuran. Nenek menjualnya di pasar.

Di suatu pagi, nenek akan pergi ke pasar. Sebelum dia pergi, dia meminta cucunya untuk memasak.

"Tolong masak nasi untuk makan siang. Tapi hanya masak satu butir beras. Ini cukup untuk kita berdua."

"Kenapa, Nenek?" Tanya gadis itu.

"Lakukan saja apa yang saya katakan."

Nenek kemudian berangkat ke pasar. Kemudian, gadis itu mulai memasak. Namun, dia merasa sebutir beras tidak akan cukup untuk mereka.

"Saya pikir itu tidak cukup bagi saya dan nenek saya."

Lalu ia mengambil dua genggam beras. Tiba-tiba, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada periuk nasi.

"Oh tidak! Beras mengalir keluar dari periuk!" teriak gadis itu.

"Apa yang harus saya lakukan?"

Beras berubah menjadi bubur dan melimpah sampai menutupi lantai dapur. Tiba-tiba, nenek pulang. Gadis itu menjelaskan apa yang terjadi.

"Kamu adalah gadis nakal! Kenapa kau tidak mendengarkan saya?" Nenek sangat marah.

Dia memukul gadis itu dengan tongkat kayu.

"Maafkan saya, Nenek!"

Gadis kecil menangis dan menangis. Tapi nenek terus memukul dia.

Kemudian, hal yang luar biasa terjadi! Gadis itu berubah menjadi monyet. Monyet itu kemudian lari dan memanjat pohon. Nenek mengejar monyet. Dari atas pohon, sang monyet itu dapat berbicara.

"Nenek, aku adalah seekor monyet sekarang. Aku tidak bisa hidup denganmu lagi. Sekarang Nenek hidup sendirian. "

Kemudian monyet memanjat dan menghilang. Nenek sangat sedih. Dia menyesali apa yang telah dilakukan kepada cucu kesayangannya.

"Kembalilah kepadaku. Maafkan Saya, cucuku!"

Tapi sudah terlambat. Gadis kecil telah berubah menjadi monyet dan tidak pernah pulang. Orang-orang dari Pulau Roti percaya cerita ini. Dan itulah sebabnya sampai sekarang; orang-orang di Pulau Roti tidak pernah memukul anak-anak mereka atau anak orang lain. Mereka takut bahwa anak akan berubah menjadi monyet. ***

Anak-anak di Pulau Rote / Roti

Legenda Surabaya