Folklor Indonesia: Dewi-Dewi Nusantara — Figur Perempuan Sakral, Roh Alam, dan Ratu Mitologis di Kepulauan Nusantara
English Version: Goddesses of the Archipelago
Indonesia bukan sekadar negeri hutan hujan yang rimbun, ladang yang subur, dan lautan yang penuh daya—Indonesia adalah anyaman hidup dari kisah-kisah yang dibentuk oleh kepercayaan kuno dan figur perempuan sakral. Di seluruh kepulauan Nusantara, folklor Indonesia mengenal dewi-dewi, ratu spiritual, dan ibu ilahi yang kehadirannya mengatur alam, menopang kehidupan, serta menjembatani dunia manusia dan dunia gaib.
Dari sawah-sawah yang dijaga oleh Dewi Sri hingga samudra selatan yang bergemuruh di bawah kekuasaan Nyai Roro Kidul, figur-figur perempuan ini mencerminkan hubungan mendalam manusia dengan tanah, air, dan kekuatan tak kasatmata. Jauh sebelum sejarah tertulis, masyarakat lokal mengekspresikan rasa syukur, rasa takut, dan penghormatan melalui kisah-kisah tentang dewi yang menguasai kesuburan, panen, lautan, hutan, dan keseimbangan kosmis.
Folklor dewi-dewi Indonesia bersifat unik karena tidak berasal dari satu sistem kepercayaan tunggal. Ia merupakan hasil lapisan tradisi animisme, kosmologi Hindu-Buddha, serta pengaruh budaya Islam yang datang kemudian—semuanya terjalin melalui cerita lisan, praktik ritual, dan mitologi regional. Sebagian figur dipandang sebagai dewi sepenuhnya, sementara yang lain dikenal sebagai penguasa spiritual atau leluhur sakral, namun semuanya memiliki otoritas suci dalam lanskap budaya masing-masing.
Melalui artikel ini, kita akan menjelajahi dewi-dewi dalam folklor Indonesia, klasifikasinya, variasi regionalnya, serta makna simbolis yang mereka bawa. Kisah-kisah ini bukan sekadar mitos masa lalu, melainkan ingatan budaya yang hidup—terus menginspirasi seni, ritual, dan cara pandang kontemporer tentang alam, femininitas, dan kekuatan spiritual di Indonesia.
![]() |
| Dari pegunungan yang diselimuti kabut hingga laut biru yang tenang, kepulauan Nusantara menyimpan kisah-kisah kuno tentang kebijaksanaan feminin, kepedulian, dan keseimbangan. |
📌 Pendahuluan: Mengapa Membahas Dewi-Dewi?
Sementara banyak mitologi di dunia cenderung menonjolkan dewa-dewa laki-laki yang perkasa, folklor Indonesia menghadirkan lanskap spiritual yang lebih seimbang. Di seluruh Nusantara, figur perempuan spiritual hadir dengan kuat dalam cerita, ritual, dan tradisi sehari-hari—mulai dari ratu laut yang menjaga pasang surut, ibu bumi yang merawat tanah, hingga dewi padi yang kehadirannya tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Para dewi ini bukan sosok yang jauh dan tak tersentuh. Sebaliknya, mereka terjalin erat dengan kehidupan sehari-hari, terkait langsung dengan siklus pertanian, kehidupan pesisir, kesejahteraan keluarga, serta irama alam. Kisah-kisah mereka mencerminkan cara masyarakat masa lalu memahami dunia: tanah perlu dirawat, air harus dihormati, dan kehidupan dijaga melalui keseimbangan, bukan dominasi.
Di banyak komunitas Indonesia, figur spiritual perempuan melambangkan kesuburan, perlindungan, kebijaksanaan, dan harmoni. Mereka mengingatkan bahwa penciptaan tidak hanya berkaitan dengan kekuatan dan penaklukan, tetapi juga dengan kesabaran, pengasuhan, dan keterhubungan antar makhluk. Melalui para dewi ini, folklor mengajarkan nilai-nilai yang tetap relevan hingga kini—penghormatan terhadap alam, rasa syukur atas sumber kehidupan, serta kesadaran akan posisi manusia di dalam sistem kehidupan yang lebih luas.
Dengan menelusuri dewi-dewi dalam folklor Indonesia, kita tidak sekadar mengulang mitos kuno. Kita sedang membuka kembali cara generasi demi generasi mengekspresikan hubungan mereka dengan bumi, laut, dan kekuatan tak kasatmata yang diyakini membimbing serta melindungi kehidupan—pelajaran yang dibisikkan melalui cerita, upacara, dan simbol-simbol yang terus bergema di seluruh kepulauan.
![]() | ||
| Hadirnya sosok feminin simbolis yang menyatu dengan lanskap Nusantara, di mana alam dan folklor bertemu secara lembut. |
🧭 Klasifikasi Dewi dalam Mitologi Indonesia
Untuk memahami kekayaan folklor Indonesia secara lebih utuh, kita dapat melihat para dewi melalui peran yang mereka jalankan dalam menopang kehidupan dan menjaga keseimbangan. Alih-alih berkuasa di alam yang jauh dan terpisah dari manusia, figur-figur ini justru sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari—tanah yang dipijak, tanaman yang memberi makan keluarga, serta lingkungan yang membentuk identitas suatu masyarakat.
Salah satu kategori yang paling menonjol adalah dewi-dewi yang berkaitan dengan bumi dan kesuburan. Hal ini mencerminkan sejarah agraris Indonesia yang panjang, serta penghormatan mendalam terhadap alam sebagai kekuatan hidup yang merawat, memberi, dan menumbuhkan.
🌾 1. Dewi Bumi & Kesuburan
✨ Dewi Sri – Dewi Padi dan Kemakmuran
Sebagai salah satu figur perempuan paling dicintai dalam folklor Indonesia, Dewi Sri dikenal luas di Jawa, Bali, Sunda, dan wilayah sekitarnya. Ia melambangkan kesuburan, pertanian, kelimpahan, serta keberlanjutan kehidupan itu sendiri. Lebih dari sekadar tokoh mitologis, Dewi Sri merepresentasikan roh padi—makanan pokok yang menopang kehidupan masyarakat selama berabad-abad.
Kisah-kisah tentang Dewi Sri kerap menekankan nilai kepedulian, pengorbanan, dan pembaruan. Kehadirannya secara tradisional dihormati melalui cerita rakyat, sesajen di sawah, ritual rumah tangga, serta praktik simbolis penyimpanan padi. Dengan demikian, Dewi Sri tidak hanya dipuja, tetapi dikenang dengan penuh kasih sebagai penjaga sumber kehidupan dan penyeimbang hubungan antara manusia dan alam.
Mitologi Dewi Sri mencerminkan pandangan hidup bahwa kemakmuran lahir dari rasa hormat terhadap alam, kesabaran dalam mengolah tanah, dan rasa syukur atas apa yang diberikan bumi.
🤱 Ibu Pertiwi – Ibu Bumi dan Jiwa Tanah Air
Berbeda dengan Dewi Sri, Ibu Pertiwi lebih bersifat simbolis daripada mitologis dalam pengertian cerita rakyat klasik. Ia melambangkan Bumi itu sendiri—tanah hidup yang merawat, melindungi, dan menyimpan ingatan kolektif bangsa. Seiring waktu, Ibu Pertiwi berkembang menjadi simbol budaya yang kuat bagi tanah air Indonesia.
Sering dihadirkan dalam lagu-lagu patriotik, puisi, dan citra nasional, Ibu Pertiwi mewakili pengasuhan, keterikatan pada tanah, dan identitas bersama. Ia tidak terikat pada satu legenda atau ritual tertentu, melainkan hidup sebagai pemahaman kolektif: bahwa tanah adalah ibu, yang layak dirawat, dijaga, dan dihormati.
Melalui sosok Ibu Pertiwi, gagasan tentang femininitas sakral melampaui folklor dan masuk ke dalam kesadaran budaya, mengingatkan bahwa tanah bukan sekadar wilayah, melainkan sumber kehidupan dan rasa memiliki.
🌊 2. Dewi Air & Laut
Sebagai negara kepulauan, hubungan Indonesia dengan laut bersifat intim dan mendalam. Laut menyediakan makanan, jalur perdagangan, dan mata pencaharian, namun juga menuntut penghormatan atas ketidakpastian dan kekuatannya. Dalam folklor, figur feminin laut sering kali mencerminkan sifat ganda ini—memberi kehidupan sekaligus berbahaya, indah namun menggetarkan.
👑 Nyai Roro Kidul – Ratu Pantai Selatan
Nyai Roro Kidul mungkin merupakan figur laut paling terkenal dalam folklor Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa dan Sunda. Ia dikenal sebagai penguasa Laut Selatan (Samudra Hindia di sepanjang pesisir selatan Jawa), wilayah yang sarat dengan kekuatan alam dan misteri.
Alih-alih dipandang sebagai dewi dalam pengertian klasik, Nyai Roro Kidul sering digambarkan sebagai ratu spiritual atau penguasa gaib. Kekuasaannya tidak berasal dari mitos penciptaan ilahi, melainkan dari penguasaannya atas laut dan kekuatan tak kasatmata di dalamnya. Dalam cerita-cerita rakyat, ia tampil sebagai sosok yang menggetarkan, berwibawa, dan sangat selaras dengan suasana laut—tenang pada satu waktu, berbahaya di waktu lain.
Ia kerap dikaitkan dengan warna hijau, ombak, badai, dan pantangan-pantangan pesisir, melambangkan keindahan sekaligus ancaman. Melalui kisah Nyai Roro Kidul, folklor mengajarkan sikap hormat terhadap laut: bukan sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan kekuatan besar yang perlu didekati dengan kerendahan hati dan kesadaran.
🌬️ Dewi Lanjar – Penjaga Laut Utara
Dalam beberapa tradisi pesisir Jawa, Dewi Lanjar hadir sebagai figur laut pelengkap yang dikaitkan dengan pantai utara. Ia sering dihubungkan dengan angin, perjalanan laut, dan kehidupan para nelayan, mewakili kekuatan tak terlihat yang memengaruhi pelayaran, cuaca, dan keberuntungan di laut.
Seperti banyak figur feminin lokal dalam folklor Indonesia, Dewi Lanjar berada di antara konsep dewi dan roh penjaga. Ia tidak sepopuler Nyai Roro Kidul, namun kehadirannya mencerminkan cara masyarakat pesisir mempersonifikasikan kekuatan alam agar lebih mudah dipahami dan dihormati.
Melalui sosok seperti Dewi Lanjar, laut dipandang bukan sekadar hamparan air, melainkan lingkungan hidup yang dibentuk oleh energi tak kasatmata, irama alam, serta hubungan timbal balik antara manusia dan alam.
🌊 Catatan tentang Ratu Laut dan Dewi
Dalam folklor Indonesia, batas antara dewi, ratu, dan penguasa roh sering kali bersifat cair. Banyak figur laut bukanlah dewa dalam struktur panteon formal, melainkan makhluk feminin berkuasa yang menjaga wilayah alam tertentu. Hal ini mencerminkan sistem kepercayaan lokal, di mana otoritas lahir dari keselarasan dengan alam, bukan dari hierarki ketuhanan.
🌙 3. Dewi Langit & Alam Lain
Selain bumi dan laut, folklor Indonesia juga memandang langit sebagai sumber makna. Dewi-dewi langit dan figur alam lain dikaitkan dengan ritme kosmis—pergerakan bulan, aliran waktu, serta keseimbangan antara terang dan gelap. Sosok-sosok ini umumnya tampil lebih simbolis dan berjarak, mewakili keharmonisan semesta daripada kebutuhan hidup sehari-hari.
🌝 Dewi Ratih – Dewi Bulan
Dewi Ratih dihormati di beberapa wilayah Jawa dan Bali sebagai dewi bulan, yang melambangkan keindahan, kelembutan, dan misteri langit malam. Berbeda dengan figur bumi atau laut yang dekat dengan kerja manusia, kehadiran Dewi Ratih dirasakan dalam momen-momen sunyi—dalam perubahan fase bulan dan cahaya lembut yang mengiringi malam dan waktu beristirahat.
Dalam folklor dan kepercayaan tradisional, kisah-kisah Dewi Ratih sering dikaitkan dengan peristiwa gerhana bulan, yang dahulu dipahami sebagai tanda gangguan kosmis. Pada saat-saat tersebut, masyarakat melakukan ritual, membuat bunyi-bunyian, atau memanjatkan doa untuk membantu memulihkan keseimbangan alam semesta. Melalui cerita-cerita ini, Dewi Ratih mewakili gagasan bahwa alam raya mengikuti irama halus yang perlu dijaga.
Simbolisme Dewi Ratih menekankan harmoni, kesabaran, dan refleksi batin. Ia mengingatkan bahwa tidak semua kekuatan bersifat terlihat atau keras—sebagian bekerja perlahan dan diam, membimbing emosi, waktu, dan keseimbangan batin di bawah cahaya bulan.
☁️ 4. Roh Perempuan Regional & Lokal
Selain dewi-dewi yang dikenal luas, folklor Indonesia juga kaya akan figur roh perempuan regional dan lokal yang pengaruhnya sangat terkait dengan tempat tertentu. Sosok-sosok ini sering hadir sebagai penjaga keibuan, penguasa hutan, atau pelindung leluhur, mencerminkan cara berbagai komunitas memahami dan menghormati kekuatan tak kasatmata di sekitar mereka.
Alih-alih menguasai alam kosmis yang luas, roh-roh ini bersifat intim dan personal—menjaga desa, gunung, hutan, serta kehidupan moral manusia sehari-hari.
👩👧 Sunan Ambu – Ibu Pelindung dalam Tradisi Sunda
Dalam folklor Sunda, Sunan Ambu dihormati sebagai figur ibu yang penuh welas asih dan perlindungan. Ia sering digambarkan sebagai kehadiran yang lembut namun bijaksana, mengawasi tanah dan membimbing manusia dengan kepedulian serta kebijaksanaan.
Berbeda dengan figur ilahi yang berjarak, peran Sunan Ambu sangat mengedepankan pengasuhan—menekankan tuntunan moral, keseimbangan hidup, dan kebaikan hati. Kisah-kisahnya mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Sunda: kerendahan hati, keselarasan dengan alam, serta penghormatan kepada leluhur dan sesama.
Melalui Sunan Ambu, femininitas sakral tampil bukan sebagai kekuasaan yang menakutkan, melainkan sebagai penjaga lembut yang mendengar, menenangkan, dan menjaga keteraturan di dunia spiritual maupun manusia.
🌲 Nini Luh Masceti – Penjaga Hutan Sakral
Dalam sistem kepercayaan tradisional Bali, Nini Luh Masceti dikaitkan dengan hutan dan lanskap alam liar yang penuh daya hidup. Ia melambangkan kesakralan alam, khususnya hutan sebagai sumber air, perlindungan, obat-obatan, dan keseimbangan spiritual. Kehadirannya mencerminkan pandangan Bali bahwa alam adalah entitas hidup yang patut dihormati.
Peran Nini Luh Masceti sebagai penjaga hutan menegaskan gagasan bahwa manusia adalah perawat, bukan pemilik, dari tanah tempat mereka hidup. Melalui cerita dan ritual yang berkaitan dengan sosok-sosok seperti ini, masyarakat diingatkan untuk memperlakukan hutan dengan hormat, menyadari perannya dalam menjaga keanekaragaman hayati serta harmoni antara dunia yang terlihat dan tak terlihat.
🌿 Peran Roh Lokal dalam Folklor
Figur-figur perempuan regional seperti Sunan Ambu dan Nini Luh Masceti menunjukkan bagaimana folklor Indonesia selalu berakar pada tempat. Setiap lanskap—gunung, hutan, laut, atau desa—memiliki kisah dan penjaganya sendiri. Sosok-sosok ini membantu menerjemahkan nilai-nilai spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan tanggung jawab, kepedulian, dan rasa hormat terhadap lingkungan.
📖 Contoh Kisah & Simbolisme
🌝 Dewi Ratih: Cahaya Bulan, Keseimbangan, dan Refleksi
Kisah-kisah Dewi Ratih sering mencerminkan pengaruh bulan itu sendiri—halus, berulang, dan sarat emosi. Dalam peristiwa seperti gerhana bulan, kehadirannya diyakini mengingatkan manusia akan keseimbangan kosmis, perenungan batin, serta harmoni antara terang dan gelap. Simbolismenya menghubungkan langit dengan perasaan manusia, seakan menegaskan bahwa benda-benda langit yang jauh pun diam-diam membentuk kehidupan di bumi.
🌍 Ibu Pertiwi: Tanah sebagai Ibu, Bangsa sebagai Makhluk Hidup
Berbeda dengan dewa yang terikat pada kuil atau mitos tertentu, Ibu Pertiwi hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Ia merepresentasikan tanah yang dipijak sebagai ibu yang merawat, memberi makan, melindungi, dan mengingat. Dipanggil dalam puisi dan lagu, simbolismenya menjembatani spiritualitas dan identitas, mengingatkan bahwa merawat bumi adalah bentuk pengabdian kepada alam sekaligus tanah air.
🌲 Sunan Ambu & Nini Luh Masceti: Penjaga Alam yang Lembut
Figur-figur keibuan ini mencerminkan aspek feminin yang melindungi dan menopang kehidupan dalam sistem kepercayaan lokal. Sunan Ambu mengawasi manusia dengan kasih dan kebijaksanaan, sementara Nini Luh Masceti mewujudkan hutan sebagai ruang sakral tempat kehidupan terus diperbarui. Kisah mereka menekankan harmoni, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap kekuatan tak kasatmata yang menjaga keseimbangan alam.
🌟 Mengapa Dewi-Dewi Ini Penting Hingga Kini
Dewi-dewi ini memperlihatkan bagaimana manusia dahulu—dan hingga kini—memaknai irama kehidupan: kesuburan tanaman, kekuatan alam, misteri laut, dan berkah tanah. Jauh dari sekadar peninggalan masa lalu, kehadiran mereka terus bergema dalam kehidupan dan ekspresi budaya sehari-hari, seperti:
Festival lokal dan upacara adat
Seni pertunjukan, tari, dan teater tradisional
Sastra modern, seni visual, dan tafsir budaya populer
Pelinggih sawah, jimat pesisir, dan simbol rumah tangga
Bersama-sama, figur-figur ini mengingatkan bahwa dalam tradisi Indonesia, alam, roh, dan kehidupan manusia bukanlah ranah yang terpisah, melainkan satu sistem hidup yang saling terhubung. Menghormati tanah, air, dan langit berarti juga menghormati kebijaksanaan leluhur yang memandang keseimbangan sebagai sesuatu yang sakral dan kesinambungan sebagai tanggung jawab bersama.
🌱 Warisan yang Tetap Hidup
Seiring Indonesia terus bergerak dan berubah, dewi-dewi ini tetap hadir sebagai pendamping sunyi dalam ingatan budaya—berbisik melalui ritual, lanskap, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka mengajak kita untuk melambat, mendengarkan alam, dan menyadari bahwa rasa hormat adalah salah satu bentuk pengabdian.
Dengan menengok kembali figur-figur ini hari ini, kita tidak sekadar melestarikan mitos, tetapi membangkitkan kembali nilai-nilai kepedulian, keseimbangan, dan rasa syukur terhadap alam. Di tengah ketidakpastian lingkungan masa kini, kebijaksanaan yang diwujudkan oleh para dewi ini terasa semakin relevan: hidup selaras dengan alam bukan hanya cita-cita spiritual, melainkan tanggung jawab yang kita warisi.
Explore the Folklore World

